Tangerang Selatan – Selasa, 2 Desember 2025, Transformasi besar sektor pangan nasional resmi dimulai. PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO) menegaskan posisinya sebagai lokomotif teknologi hijau Indonesia dengan menandatangani Perjanjian Kerja Sama strategis senilai Rp100 miliar bersama PT Zareen Global Prima, di Tangerang Selatan.
Kolaborasi ini bukan sekadar proyek bisnis, melainkan cetak biru (blueprint) revolusi Food Estate Indonesia menuju pertanian cerdas, mandiri energi, dan berdaya saing global .
Kerja sama ini menyatukan dua kekuatan besar: Zareen Global Prima sebagai pengembang kawasan dan penggerak komunitas tani di Jawa Tengah, serta Nanotech Indonesia Global Tbk sebagai technology provider nasional dengan keunggulan di bidang rekayasa material maju, energi terbarukan, dan teknologi nano terapan.
Dari Masalah Klasik ke Solusi Sistemik
Selama puluhan tahun, Food Estate dan sentra pertanian Indonesia terjebak dalam persoalan berulang: biaya energi tinggi, ketergantungan BBM fosil, serta kerugian pasca-panen akibat pembusukan hasil tani. Kondisi ini membuat petani berada di posisi paling rentan dalam rantai nilai pangan.
Direktur Utama PT Nanotech Indonesia Global Tbk, Suryandaru, menegaskan bahwa pendekatan lama tidak lagi relevan.
“Masalah pangan Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan solusi tambal sulam. Yang dibutuhkan adalah lompatan teknologi dan keberanian membangun sistem dari hulu sampai hilir,” tegas Suryandaru.
“Nanotech hadir bukan hanya membawa teknologi, tetapi menghadirkan kepastian: kepastian energi, kepastian kualitas panen, dan kepastian kesejahteraan petani.”
Infrastruktur Energi Mandiri: Food Estate Tanpa BBM
Dalam proyek ini, Nanotech akan membangun Infrastruktur Energi Terpadu berbasis Microgrid Hybrid, mengombinasikan tenaga surya dan angin dengan sistem penyimpanan baterai industri.
Sistem ini memungkinkan kawasan pertanian beroperasi 24 jam penuh secara off-grid, tanpa ketergantungan pada genset solar maupun jaringan listrik konvensional.
Pompa irigasi, fasilitas produksi, hingga gudang pasca-panen akan ditopang energi bersih yang stabil dan berbiaya rendah — sebuah perubahan struktural dalam ekonomi pertanian nasional.
Nano Freshness Chamber: Game Changer Pasca-Panen
Tidak berhenti di hulu, Nanotech juga membawa terobosan pasca-panen melalui teknologi Nano Freshness Chamber.
Teknologi ini menggunakan material nano organik (edible coating) berbasis sistem pengkabutan (fogging) yang melapisi hasil panen secara aman dan alami.
Hasilnya, komoditas hortikultura seperti cabai, bawang, dan sayuran segar mampu bertahan jauh lebih lama, menekan food loss, menjaga kualitas, dan memberikan ruang bagi petani untuk menjual produk pada harga terbaik.
“Teknologi nano memungkinkan kami bekerja di level molekuler, memperlambat respirasi dan pertumbuhan bakteri tanpa bahan kimia berbahaya. Inilah bukti bahwa sains bisa langsung meningkatkan pendapatan petani,” lanjut Suryandaru.
Investasi Strategis Rp100 Miliar untuk Dampak Nyata
Proyek berdurasi tiga tahun ini dirancang dengan struktur investasi yang fokus pada aset produktif jangka panjang:
• 80% dialokasikan untuk pembangunan pembangkit listrik terpusat dan infrastruktur energi kawasan
• 20% untuk pengembangan unit-unit Nano Freshness Chamber di sentra panen
Kolaborasi ini menargetkan peningkatan efisiensi biaya produksi, pengurangan emisi karbon, dan lonjakan nilai tambah hasil pertanian secara simultan.
Menuju Blueprint Smart Farming Nasional
Bagi Nanotech Indonesia Global Tbk, proyek ini menjadi pembuktian nyata bahwa teknologi karya anak bangsa mampu menjawab tantangan strategis nasional.
Sementara bagi Zareen Global Prima, kerja sama ini memperkuat peran mereka sebagai pengembang kawasan pertanian modern yang berorientasi keberlanjutan.
“Kami ingin Food Estate Indonesia naik kelas. Bukan hanya besar secara luas lahan, tapi cerdas secara teknologi dan kuat secara ekonomi,” tutup Suryandaru.
Ke depan, proyek ini diharapkan menjadi model nasional Smart Food Estate, sekaligus membuka jalan replikasi di berbagai wilayah Indonesia.